Minggu, 04 Oktober 2015

التورية

MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Balaghah II
Dosen pengampu: Mahfudz Shiddiq Lc, M.Ag

Disusun Oleh:
Iip Kasipul Qulub                 113211025
Khairun Niam                       113211026


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014
التورية
I.                   Pendahuluan
Ilmu Badi’ adalah ilmu yang dengannya diketahui segi-segi dan keistimewaan-kestimewaan yang dapat membuat kalimat semakin indah, bagus dan menghiasinya dengan kebaikan dan keindahan, setelah kalimat tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi serta jelas akan makna yang dikehendaki. Secara garis besar Ilmu Badi’ mempunyai dua objek kajian, yaitu al-muhassinat al-lafdziyyah (keindahan ujaran) dan al-muhassinat al-ma’nawiyyah (keindahan makna).
Salah satu dari objek kajian al-muhassinat al-ma’nawiyyah (keindahan makna) yaitu at-Tauriyyah, dalam kesempatan ini kami sebagai pemakalah akan menjelaskannya dalam makalah berikut.

II.                Rumusan Masalah
A.    Apa Pengertian Tauriyah?
B.     Apa saja Macam-macam Tauriyah?

III.             Pembahasan
A.    Pengertian Tauriyah
Secara leksikal Tauriyah bermakna tertutup atau tersembunyi.[1] Kata ini secara etimologi merupakan bentuk masdar dari akar kata “ورّى”. Dalam bahasa Arab biasa terucap وَرَّيْتُ اْلخَبَرَ تَوْرِيَةً (saya menutupi berita itu dan menampakkan lainnya).[2]
Sedangkan secara istilah menurut Ali Jarim dan Musthafa Amin dalam kitabnya al-Balaghah al-Wadhihah, Tauriyah adalah:
هيَ أنْ يذكرَ المتكلمُ لفظًا مفردًا له معنَيَانِ, قريبٌ ظاهرٌ غير مرادٍ وبعيدٌ خفيٌّ هو المرادُ[3]
Si pembicara menyampaikan satu kata dalam bentuk tunggal,yang mempunyai dua makna; pertama, makna dekat dan jelas yang tidak dimaksudkan; kedua, makna yang jauh dan samar yang dimaksudkan.
Yang dimaksud dengan “makna dekat” yaitu makna sebuah kata yang paling mudah dan cepat terlintas dalam pikiran kita. Sedangkan “makna jauh” yaitu makna yang tidak mudah dipahami kecuali setelah melalui pemikiran lebih dalam.
Contoh 1: Dalam al-Quran Surat Thaha: 5, Allah SWT berfirman:
ß`»oH÷q§9$#n?tãĸöyèø9$#3uqtGó$#
"Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas 'Arsy"
Kata yang menunjukan tauriyah di sini adalah “uqtGó$#” memiliki dua makna: pertama, bersemayam (makna dekat), kedua, menguasai dan memiliki (makna jauh), dan yang kedua merupakan makna yang sebenarnya yang dimaksudkan.
Contoh 2: Jawaban Abu Bakar as-Shiddiq ketika perjalanan Hijrah bersama Nabi Muhammad SAW, ketika di perjalanan itu ada seseorang bertanya kepada Abu Bakar “Siapa dia?”, sahabat Abu Bakar menjawab “dia seorang yang menunjukan jalan”. Orang itu mengira bahwa yang dimaksud adalah Guide/pekerja penunjuk jalan (makna dekat), padahal maksud Abu Bakar adalah yang menunjukan jalan kebaikan (makna jauh).[4]
B.     Macam-macam Tauriyah
Tauriyah terbagi menjadi empat macam[5], yaitu:
1.      Tauriyah Mujarradah
Tauriyah Mujarradah ialah tauriyah yang tidak dibarengi dengan sesuatu (ungkapan) yang sesuai dengan dua macam makna (makna dekat dan makna jauh).
Contoh: Jawaban Nabi Ibrahim ketika ditanya Tuhan tentang istrinya, ia mengatakan “هذه أختي“ (ini saudariku).Kata“أختي” dalam konteks kalimat ini mengandung dua makna: pertama, makna dekat yang mudah dipahami, yaitu saudarikuأختي في النسب sedangkan makna kedua, yaitu saudariku seagama أختي في الله. Dan yang dimaksudkan oleh lafadz tersebut adalah makna jauh atau makna kedua.
Pada kalimat di atas terdapat ungkapan tauriyah yaitu kata “أختي“. Pada contoh di atas tidak terdapat kata-kata (ungkapan) yang sesuai dan munasabah untuknya.
2.      Tauriyah Murasysyahah
Tauriyah Murasysyahah ialah suatu tauriyah  yang setelah itu dibarengi dengan ungkapan yang sesuai dengan makna yang dekat. Tauriyah ini dinamakan Murasysyahah karena dengan menyertakan ungkapan yang sesuai dengan makna dekat, menjadi lebih kuat. Sebab makna yang dekat tidak dikehendaki, jadi seolah-olah makna yang dekat itu lemah, apabila suatu yang sesuai dengannnya disebutkan maka ia menjadi kuat.
Contoh: Dalam al-Quran surat al-Dzariyat:47, Allah SWT berfirman:
uä!$uK¡¡9$#ur$yg»oYøt^t/7&÷ƒr'Î/$¯RÎ)urtbqãèÅqßJs9
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa”
Pada ayat di atas terdapat ungkapan tauriyah, yaitu pada kata7&÷ƒr'Î/. Kata tersebut mengandung kemungkinan diartikan dengan tangan, yaitu diberi makna anggota tubuh, dan itulah makna yang dekat. Sedangkan makna jauhnya adalah kekuasaan. Selain itu disebutkan juga ungkapan yang sesuai dengan makna yang dekat itu dari segi untuk menguatkan, yaitu kata$yg»oYøt^t/. Namun demikian pada ayat diatas ungkapan tauriyah mengandung kemungkinan makna jauh yang dikehendaki.
3.      Tauriyah Mubayyanah
Tauriyah Mubayyanah adalah salah satu jenis tauriyah yang disebutkan padanya ungkapan yang sesuai untuk makna yang jauh. Dinamakan mubayyanah karena ungkapan tersebut dimunculkan untuk menjelaskan makna yang ditutupinya. Sebelum itu makna yang dimaksudkan masih samar, sehingga setelah disebutkan kelaziman makna yang dikehendaki menjadi jelas.
Contoh: Ucapan Seorang penyair
يا من رآني بالهموم مطوقًا  #  وظللتُ من فقدي غصون في شجونٍ
“Hai orang yang melihat aku dikelilingi kesedihan, ketika aku tidak ada ranting-ranting itu berlindung pada dahan yang rindang cabangnya berbelit-belit”
Kata “شجون pada syi’ir di atas bersifat ambigu, karena memiliki dua makna: pertama, yaitu kesedihan (makna dekat), makna kedua, dahan yang rindang (makna jauh) dan ini makna yang dikehendaki.
4.      Tauriyah Muhayyaah
Tauriyah Muhayyaah ialah tauriyah yang tidak terwujud kecuali dengan lafadz sebelum atau sesudahnya. Jadi muhayyaah terbagi menjadi dua bagian:
1). Sesuatu yang dipersiapkan dengan lafadz yang terletak sebelumnya. Contoh: Syair Sirajuddin al-Warraq
أَصونُ أديمَ وجهِيْ عن أناسٍ  #  لقاءُ الموتِ عندهُمْ الأديبُ
وربُّ الشعرِ عندهم بغيضٌ  #  ولو وافِي بهِ لهم حبيبٌ
“Aku memelihara kulit mukaku dari banyak orang bertemu, mati menurut mereka adalah sesuatu yang beradab, pengarang menurut mereka adalah orang yang dibenci meski yang datang kepada mereka itu adalah orang yang dicintai.”
Kata حبيبٌpada syi’ir di atas memiliki dua makna: pertama, orang yang dicintai (makna dekat) dan mudah dipahami oleh hati pendengar karena sebelumnya ada kata “بغيضٌ”, maknakedua adalah nama AbuTamam seorang penyair yaitu Habib bin Aus (makna jauh). Dan makna ini yang dikehendaki penyair.
2). Sesuatu yang dipersiapkan dengan lafadz yang sesuai sesudahnya.
Contoh:
أنهُ كانُ يحركَ الشمالُ باليمينِ
Sesungguhnya ia menggerakkan baju lapang yang menyelubungi seluruh badan dengan tangan kanan.”
Kata الشمال pada contoh di atas memiliki dua makna, yaitu: pertama, tangan kiri (makna dekat) kedua, baju longgar yang menyelubungi seluruh tubuh (makna jauh) dan ini makna yang dikehendaki, akan tetapi makna ini tidak kelihatan jelas karena tertutupi oleh kata sesudahnya yaitu اليمين yang berarti tangan kanan.[6]

IV.             Kesimpulan
Tauriyah secara leksikal bermakna tersembunyi. Sedangkan pengertiannya dalam terminologi ilmu balaghah adalah suatu lafadz yang mempunyai makna ganda, makna pertama dekat dan jelas akan tetapi tidak dimaksud, sedangkan makna kedua jauh dan tersembunyi, akan tetapi makna itulah yang dimaksud.
Tauriyah terbagi menjadi 4 macam, yaitu: Tauriyah Mujarradah, Tauriyah Murasysyahah, Tauriyah Mubayyanah dan Tauriyah Muhayyaah yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu: pertama, Sesuatu yang dipersiapkan dengan lafadz yang terletak sebelumnya. kedua, Sesuatu yang dipersiapkan dengan lafadz yang sesuai sesudahnya.
V.                Penutup
Demikian makalah yang kami sampaikan. Dengan harapan semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diperlukan demi kemaslahatan kita semua. Dan semoga kita bisa mengambil hikmahnya.
Daftar Pustaka
al-Hasyimi, Ahmad, Jawahirul Balaghah fil Ma’ani  wal Bayan wal Badi’, Beirut: al-Maktabah al-Ashriyah, 1999.
al-Jarim, Ali, Musthafa Amin, al-Balaghah al-Wadhihah, Jakarta: Raudhah Press, 2007.
‘Atiq, Abdul Aziz fil Balaghah al-Arabiyah Ilmu Badi’, Beirut: Daar an-Nahdlah al-Arabaiyah, 1985.
Qullas, Ahmad, Taisirul Balaghah, Jeddah: as-Saghar, 1995.



[1]Ahmad Qullas, Taisirul Balaghah, (Jeddah: as-Saghar, 1995), hlm. 150.
[2]Abdul Aziz Atiq, fil Balaghah al-Arabiyah Ilmu Badi’, (Beirut: Daar an-Nahdlah al-Arabaiyah, 1985), hlm. 122.
[3]Ali al-Jarim, Musthafa Amin, al-Balaghah al-Wadhihah , (Jakarta: Raudhah Press, 2007), hlm. 259.
[4]Abdul Aziz Atiq, fil Balaghah al-Arabiyah Ilmu Badi’, hlm. 126.
[5]Ahmad al-Hasyimi, Jawahirul Balaghah fil Ma’ani  wal Bayan wal Badi’, (Beirut: al-Maktabah al-Ashriyah, 1999), hlm. 300-301.
[6]Ahmad al-Hasyimi, Jawahirul Balaghah fil Ma’ani  wal Bayan wal Badi’, hlm. 300-301.
Tokoh-Tokoh Balaghah


MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Balaghah I
Dosen pengampu: Mahfudz Shiddiq Lc, M.Ag


Disusun Oleh:
Iip Kasipul Qulub                 113211025


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014

I.                   PENDAHULUAN
Pada awalnya struktur ilmu balaghah belumlah lengkap seperti yang kita kenal sekarang. Setelah mengalami berbagai fase perkembangan dan penyempurnaan akhirnya disepakati bahwa ilmu ini membahas tiga kajian utama, yaitu ilmu bayan, ma’ani dan badi’.[1] Dalam perkembangannya tentunya banyak tokoh-tokoh yang berpengaruh di dalamnya. Dalam kesempatan kali ini pemakalah akan membahas tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam Ilmu Balaghah.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.     Siapa saja Tokoh-tokoh Ilmu Balaghah?

III.             PEMBAHASAN
A.     Tokoh-tokoh Ilmu Balaghah
Tokoh pertama yang mengarang buku dalam bidang ilmu bayân adalah Abû Ubaidah dengan kitabnya Majâz Alquran. Beliau adalah murid al-Khalil. Dalam bidang ilmu ma’âni, kitab I’jâz Alquran yang dikarang oleh al-Jâhizh merupakan kitab pertama yang membahas masalah ini. Sedangkan kitab pertama dalam ilmu badî’ adalah karangan Ibn al-Mu’taz dan Qudâmah bin Ja’far. Pada fase berikutnya, munculah seorang ahli balâghah yang termashur,beliau adalah Abd al-Qâhir al-Jurzâni yang mengarang kitab Dalâil al-I‘jâz dalam ilmu ma’âni dan Asrâr al-Balâghah dalam ilmu bayân. Setelah itu muncullah Sakkâki yang mengarang kitab Miftah al-Ulûm yang mencakup segala masalah dalam ilmu balâghah.[2]
Berikut tokoh-tokoh balaghah yang berpengaruh dalam pengembangan ilmu balaghah:
1.      Abu ‘Ubaidah Mu’ammar bin al-Mutsanna
Abu ‘Ubaidah Mu’ammar bin al-Mutsanna merupakan seorang sastrawan dan ulama dalam bidang bahasa arab yang berasal dari basra. Dia lahir pada tahun 110 H dan wafat pada tahun 209 H. Ia merupakan salah satu murid Imam Khalilyang notabene pakar bahasa arab. Abu Ubaidah merupakan tokoh pertama yang mengarang buku dalam bidang ilmu bayan dengan kitabnya Majaz al-Quran..

2.      al-Jahizh
al-Jahiz merupakan seorang sastrawan arab yang telah memiliki karya-karya dalam bidang literatur arab, biologi, zoologi, sejarah, filsafat, psikologi, teologi mu’tazilah, dan polemik-polemik politik religi.[3] Beliau wafat pada tahun 255 H. beliau pengarang kita al-Bayan wa at-Tabyin.
3.      Abdullah bin Mu’taz
Abdullah bin Mu’taz merupakan khalifah dikekhalifahan abbasiah. Beliau betul-betul mendalami dan menekuni dunia sastra, kemudian menyusun kitab yang bernama al-Badi’. Beliau wafat pada tahun 296 H.[4]
4.      Qudamah bin Ja’far
Qudamah bin Ja’far al-Katib al-Baghdadi merupakan seorang sarjana arab dan administrator untuk kekhalifahan Abbasiyah. Ketika diawal bekerja nya beliau seorang nasroni, kemudian masuk islam ketika masa khalifah al-Muktafi dan pada masanya beliau terkenal memperdalam tentang filsafat dan logika. Dalam ilmu balaghah beliau menyusun sebuah risalah yang bernama naqdu qudamah. Kitab ini merupakan kelanjutan dari karangan khalifah Ibnu Mu’taz sekaligus menyempurnakan istilah-istilah yang dipakai di dalamnya. Beliau wafat pada tahun 337 H.[5]
5.      Abu Hilal al-Askary
Abu Hilal Hasan bin Abdullah al-Askary merupakan seorang sastrawan dan penyair berbangsa arab serta salah seorang diantara pakar ilmu balaghah. Beliau mempunyai lebih dari 10 buah karangan dan beliau juga mengarang kitab as-shina’ataini dalam bentuk prosa dan sastra.[6]
6.      Abdul Qohir al-Jurjani
Abu Bakar Abdul Qohir bin Abdul Rahman bin Muhammad al-Jurjani lahir pada tahun 377 H dan wafat pada tahun 471 H atau 474 H. Beliau terkenal dalam ilmu balaghah dan ilmu bayan, yang penjelasannya tertuang dalam kitabnya yang bernama Asror al-Balaghah dan Dalail al-Ijaz.
7.      Imam Zamakhsyari
Dia adalah Abul Qasim Mahmud Bin Umar Al-Khawarizmi Az-Zamakhsyari. Di lahirkan pada 27 Rajab 467 H. Di Zamakhsyar, sebuah perkampungan besar di kawasan khawarizmi (Turkistan). Dia mulai belajar di negeri sendiri, kemudian di Bukhara, dan belajar sastra kepada Syeih Mansyur Abi Mudhar. Kemudian pergi ke Mekkah dan menetap cukup lama sehingga memperoleh julukan Jarullah (Tetangga Allah). Dan selama tinggan di kota Mekkah itulah dia menulis Al-Kasysyaf ‘An Haqa’iqit Tanzil Wa ‘Unuyil Aqawil Fi Wujuhit Ta’wil. Dia wafat pada 538 H, di Jurjaniah khawarizem setelah kembali dari makkah. Beliau termasuk tokoh aliran Muktazilah yang membela mati-matian madzhabnya. Ia memperkuatnya dengan kekuatan hujjah yang dimilikinya. Dalam hal ini, imam adz-Dzahabi di dalam kitabnya “al-Miizaan” (IV:78) berkata, “Ia seorang yang layak (diambil) haditsnya, tetapi ia seorang penyeru kepada aliran muktazilah, semoga Allah melindungi kita. Karena itu, berhati-hatilah terhadap kitab Kasysyaaf karyanya.”[7]
8.      as-Sakaky
Abu Ya’qub Yusuf bin Muhammad bin Ali as-Sakaky atau dikenal dengan nama as-Sakaky dilahirkan di khawarizm pada tahun 555 H dan wafat pada tahun 626 H. beliau menyusun sebuah karya besar yang menguraikan ilmu balaghah disamping ilmu-ilmu pengetahuan bahasa arab lainnya. Kitab tersebut dikenal dengan nama Miftahul Ulum.
Selain tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, masih banyak lagi tokoh yang mempunyai andil dalam pengembangan ilmu balâghah, yaitu:
1.      Hasan bin Tsabit, beliau seorang penyair Rasullullah saw. Orang Arab sepakat bahwa ia adalah seorang tokoh penyair dari kampung. Suatu pendapat menyatakan bahwa ia hidup selama 120 tahun; 60 tahun dalam masa Jahiliyah dan 60 tahun dalam masa keislaman. Ia meninggal pada tahun 54 H.
2.      Abu-Thayyib, beliau adalah Muhammad bin al-Husain seorang penyair kondang. Ia mendalami kata-kata bahasa Arab yang aneh. Syi’irnya sangat indah dan memiliki keistimewaan, bercorak filosofis, banyak kata-kata kiasannya dan beliau mampu menguraikan rahasia jiwa. Ia dilahirkan di Kufah, tepatnya di sebuah tempat bernama Kindah pada tahun 303 H, dan wafat tahun 354 H.
3.      Umru’ al-Qais, ia tokoh penyair Jahiliyah yang merintis pembagian bab-bab dan macam-macam syi’ir. Ia dilahirkan pada tahun 130 sebelum Hijriyah. Nenek moyangnya adalah para raja dan bangsawan Kindah. Ia wafat pada tahun 80 sebelum Hijriyah. Syi’ir-syi’irnya yang pernah tergantung di Ka’bah sangat masyhur.
4.      Abu Tammam (Habib bin Aus Ath-Tha’i), ia seorang penyair yang masyhur, satu-satunya orang yang mendalam pengetahuannya tentang maâni, fashahah al-syâir, dan banyak hafalannya. Ia wafat di Mosul pada tahun 231 Hijriyah.
5.      Jarir bin Athiyah al-Tamimi, ia seorang di antara tiga penyair terkemuka pada masa pemerintahan Bani Umayah. Mereka adalah al-Akhthal, Jarir, dan al- Farazdaq. Dalam beberapa segi ia melebihi kedua rekannya. Dia wafat pada tahun 110 H.
6.      Al-Buhturi, ia seorang penyair Bani Abasiyah yang profesional. Ketika Abu al- ‘A’la al-Ma’arri ditanya tentang al-Buhtury dia berkata, “Siapakah yang ahli syi’ir di antara tiga orang ini, Abu Tammam, al-Buhturi, ataukah al- Mutanabbi?” Ia menjawab, “Abu Tamam dan al-Mutanabbi keduanya adalah para pilosof; sedangkan yang penyair adalah al-Buhturi”. Dia lahir di Manbaj dan wafat di sana pada tahun 284 H.”
7.      Saif al-Daulah, ia adalah Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Hamdan, raja Halab yang sangat cinta syi’ir. Lahir tahun 303, wafat tahun 356.
8.      Ibnu Waki’, ia seorang penyair ulung dari Baghdad. Lahir di Mesir dan wafat di sana pada tahun 393 H.
9.      Ibn Khayyath, ia seorang penyair dari Damaskus. Ia telah menjelajahi beberapa negara dan banyak mendapatkan pujian dari masyarakat yang mengenalnya. Ia sangat masyhur, karena karya-karyanya khususnya pada buku-buku syi’ir yang sangat populer. Ia wafat pada tahun 517 H.
10.  Al-Ma’arri, ia adalah Abu al-‘Ala’ al-Ma’arri. Dia seorang sastrawan, pilosof dan penyair masyhur, lahir di Ma’arrah (kota kecil di Syam). Matanya buta karena sakit cacar ketika berusia empat tahun. Dia meninggal di Ma’arrah pada tahun 449 H.
11.  Ibn Ta’awidzi, ia adalah penyair dan sastrawan Sibth bin at-Ta’awidzi. Wafat di Baghdad pada tahun 584 H, dan sebelumnya buta selama lima tahun.
12.  Abu Fath Kusyajin, ia seorang penyair profesional dan terbilang sebagai pakar sastra. Ia cukup lama menetap di Mesir dan berhasil mengharumkan negeri itu. Dia wafat pada tahun 330 H.
13.  Ibn Khafajah, ia seorang penyair dari Andalus. Ia tidak mengharapkan kemurahan para raja sekalipun mereka menyukai sastra dan para sastrawan. Ia wafat pada tahun 533 H.
14.  Muslim bin al-Walid, ia dijuluki dengan Shari’ al-Ghawani. Ia seorang penyair profesional dari dinasti Abbasiyah. Ia adalah orang yang pertama kali menggantungkan syi’irnya kepada Badî’. Dia wafat pada tahun 208 H.
15.  Abu al-‘Atahiyah, ia adalah Ishaq bin Ismail bin al-Qasim, lahir di Kufah pada tahun 130 H. Syi’irnya mudah di pahami, padat dan tidak banyak mengada-ada. Kebanyakan syi’irnya tentang zuhud dan peribahasa. Dia wafat pada tahun 211 H.
16.  Ibn Nabih, ia seorang penyair dan penulis dari Mesir. Ia memuji Ayyubiyyin dan menangani sebuah karya sastra berbentuk prosa buat Raja al-Asyraf Musa. Ia pindah ke Mishshibin dan wafat di sana pada tahun 619 H.
17.  Basysyar bin Burd, ia seorang penyair masyhur. Para periwayat menilainya sebagai seorang penyair yang modern lagi indah. Ia penyair dua zaman, Bani Umayah dan Bani Abasiyah. Dia wafat pada tahun 167 H.
18.  Al-Nabighah Al-Dzubyani, ia adalah seorang penyair Jahiliyah. Ia dinamai Nabighah karena kejeniusannya dalam bidang syi’ir. Ia dinilai oleh Abd al- Malik bin Marwan sebagai seorang Arab yang paling mahir bersyi’ir. Ia adalah penyair khusus Raja Nu’man Ibn al-Mundzir. Di zaman Jahiliyah, ia mempunyai kemah merah khusus untuknya di pasar tahunan Ukash. Para penyair lain berdatangan kepadanya, lalu mereka mendendangkan syi’irsyi’irnya untuk ia nilai. Ia wafat sebelum kerasulan Muhammad saw.
19.  Abu al-Hasan al-Anbari, ia seorang penyair kondang yang hidup di Baghdad. Ia wafat pada tahun 328 H. Ia terkenal dengan ratapannya kepada Abu Thahirbin Baqiyah, patih ‘Izz al-Daulah, ketika ia dihukum mati dan tubuhnyadisalib. Maratsi-nya (ratapannya) itu merupakan maratsi yang paling jarangmengenai orang yang mati disalib. Karena ketinggiannya, Izzud Daulahsendiri memerintahkan agar dia disalib. Dan seandainya ia sendiri yangdisalib, lalu dibuatkan maratsi tersebut untuknya.
20.  Syarif Ridha, ia adalah Abu al-Hasan Muhammad yang nasabnya sampaikepada Husain bin Ali as. Ia seorang yang berwibawa dan menjaga kesuciandirinya. Ia disebut sebagai tokoh syi’ir Quraisy karena orang yang pintar di antara mereka tidak banyak karyanya, dan orang yang banyak karyanya tidak pintar, sedangkan ia menguasai keduanya. Ia lahir di Baghdad dan wafat di sana pada tahun 406 H.
21.  Said bin Hasyim al-Khalidi, ia seorang penyair keturunan Abdul Qais. Kekuatan hafalannya sangat mengagumkan. Ia banyak menulis buku-buku sastra dan syi’ir. Ia wafat pada tahun 400 H.
22.  Antarah, ia adalah seorang penyair periode pertama. Ibunya berkebangsaan Ethiopia. Ia terkenal berani dan menonjol. Ia wafat tujuh tahun sebelum kerasulan Muhammad.
23.  Ibnu Sinan al-Kahfaji, ia adalah seorang penyair dan sastrawan yang berpendirian syi’ah. Ia diangkat menjadi wali pada salah satu benteng di Halab oleh Raja Mahmud bin Saleh, tetapi ia memberontak terhadap raja. Akhirnya ia mati diracun pada tahun 466 H.
24.  Ibnu Nubatah Al-Sa’di, ia adalah Abu Nashr Abd al-Aziz, seorang penyair ulung yang sangat lihai dalam merangkai dan memilih kata. Ia wafat pada tahun 405 H.[8]

IV.             PENUTUP
Kita tidak mampu mengenal tokoh-tokoh besar dalam bidang yang hidup berabad-abad sebelum kita kecuali hanya melalui karyanya. Hal serupa yang pemakalah rasakan dalam mempelajari perihal tokoh-tokoh balaghah ini, kalau bukan dari karya yang diwariskan oleh para pendahulu kita, maka kita tidak akan mengenalnya.
Demikian makalah yang Saya sampaikan. Dengan harapan semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak. Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diperlukan demi kemaslahatan kita semua. Dan semoga kita bisa mengambil hikmahnya.










DAFTAR PUSTAKA
Dief, Syauqi, al-Balaghah Tathawwur wa Tarikh, Kairo: Darul Ma’arif, Tth.
Zaenuddin, Mamat, Pengantar Ilmu Balaghah, Bandung: PT Refika Aditama, 2007.
http://finarga.blogspot.com/2010/08/nama-biografi-singkah-tokoh-islam.html
http://id.wikipedia.org/wiki/






[1]Mamat Zaenuddin, Pengantar Ilmu Balaghah, (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), hlm. 3.
[2]Mamat Zaenuddin, Pengantar Ilmu Balaghah, (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), hlm. 3.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Al_Jahiz
[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_al-Mu'tazz
[5] Syauqi Dief, al-Balaghah Tathawwur wa Tarikh, (Mesir: Darul Maarif, Tth),  hlm. 78.
[6] http://finarga.blogspot.com/2010/08/nama-biografi-singkah-tokoh-islam.html
[7] http://islami90.blogspot.com/2011/07/biografi-az-zamakhsyari-by.html
[8]Mamat Zaenuddin, Pengantar Ilmu Balaghah, hlm. 3-6.