Minggu, 04 Oktober 2015

Tokoh-Tokoh Balaghah


MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Balaghah I
Dosen pengampu: Mahfudz Shiddiq Lc, M.Ag


Disusun Oleh:
Iip Kasipul Qulub                 113211025


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014

I.                   PENDAHULUAN
Pada awalnya struktur ilmu balaghah belumlah lengkap seperti yang kita kenal sekarang. Setelah mengalami berbagai fase perkembangan dan penyempurnaan akhirnya disepakati bahwa ilmu ini membahas tiga kajian utama, yaitu ilmu bayan, ma’ani dan badi’.[1] Dalam perkembangannya tentunya banyak tokoh-tokoh yang berpengaruh di dalamnya. Dalam kesempatan kali ini pemakalah akan membahas tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam Ilmu Balaghah.

II.                RUMUSAN MASALAH
A.     Siapa saja Tokoh-tokoh Ilmu Balaghah?

III.             PEMBAHASAN
A.     Tokoh-tokoh Ilmu Balaghah
Tokoh pertama yang mengarang buku dalam bidang ilmu bayân adalah Abû Ubaidah dengan kitabnya Majâz Alquran. Beliau adalah murid al-Khalil. Dalam bidang ilmu ma’âni, kitab I’jâz Alquran yang dikarang oleh al-Jâhizh merupakan kitab pertama yang membahas masalah ini. Sedangkan kitab pertama dalam ilmu badî’ adalah karangan Ibn al-Mu’taz dan Qudâmah bin Ja’far. Pada fase berikutnya, munculah seorang ahli balâghah yang termashur,beliau adalah Abd al-Qâhir al-Jurzâni yang mengarang kitab Dalâil al-I‘jâz dalam ilmu ma’âni dan Asrâr al-Balâghah dalam ilmu bayân. Setelah itu muncullah Sakkâki yang mengarang kitab Miftah al-Ulûm yang mencakup segala masalah dalam ilmu balâghah.[2]
Berikut tokoh-tokoh balaghah yang berpengaruh dalam pengembangan ilmu balaghah:
1.      Abu ‘Ubaidah Mu’ammar bin al-Mutsanna
Abu ‘Ubaidah Mu’ammar bin al-Mutsanna merupakan seorang sastrawan dan ulama dalam bidang bahasa arab yang berasal dari basra. Dia lahir pada tahun 110 H dan wafat pada tahun 209 H. Ia merupakan salah satu murid Imam Khalilyang notabene pakar bahasa arab. Abu Ubaidah merupakan tokoh pertama yang mengarang buku dalam bidang ilmu bayan dengan kitabnya Majaz al-Quran..

2.      al-Jahizh
al-Jahiz merupakan seorang sastrawan arab yang telah memiliki karya-karya dalam bidang literatur arab, biologi, zoologi, sejarah, filsafat, psikologi, teologi mu’tazilah, dan polemik-polemik politik religi.[3] Beliau wafat pada tahun 255 H. beliau pengarang kita al-Bayan wa at-Tabyin.
3.      Abdullah bin Mu’taz
Abdullah bin Mu’taz merupakan khalifah dikekhalifahan abbasiah. Beliau betul-betul mendalami dan menekuni dunia sastra, kemudian menyusun kitab yang bernama al-Badi’. Beliau wafat pada tahun 296 H.[4]
4.      Qudamah bin Ja’far
Qudamah bin Ja’far al-Katib al-Baghdadi merupakan seorang sarjana arab dan administrator untuk kekhalifahan Abbasiyah. Ketika diawal bekerja nya beliau seorang nasroni, kemudian masuk islam ketika masa khalifah al-Muktafi dan pada masanya beliau terkenal memperdalam tentang filsafat dan logika. Dalam ilmu balaghah beliau menyusun sebuah risalah yang bernama naqdu qudamah. Kitab ini merupakan kelanjutan dari karangan khalifah Ibnu Mu’taz sekaligus menyempurnakan istilah-istilah yang dipakai di dalamnya. Beliau wafat pada tahun 337 H.[5]
5.      Abu Hilal al-Askary
Abu Hilal Hasan bin Abdullah al-Askary merupakan seorang sastrawan dan penyair berbangsa arab serta salah seorang diantara pakar ilmu balaghah. Beliau mempunyai lebih dari 10 buah karangan dan beliau juga mengarang kitab as-shina’ataini dalam bentuk prosa dan sastra.[6]
6.      Abdul Qohir al-Jurjani
Abu Bakar Abdul Qohir bin Abdul Rahman bin Muhammad al-Jurjani lahir pada tahun 377 H dan wafat pada tahun 471 H atau 474 H. Beliau terkenal dalam ilmu balaghah dan ilmu bayan, yang penjelasannya tertuang dalam kitabnya yang bernama Asror al-Balaghah dan Dalail al-Ijaz.
7.      Imam Zamakhsyari
Dia adalah Abul Qasim Mahmud Bin Umar Al-Khawarizmi Az-Zamakhsyari. Di lahirkan pada 27 Rajab 467 H. Di Zamakhsyar, sebuah perkampungan besar di kawasan khawarizmi (Turkistan). Dia mulai belajar di negeri sendiri, kemudian di Bukhara, dan belajar sastra kepada Syeih Mansyur Abi Mudhar. Kemudian pergi ke Mekkah dan menetap cukup lama sehingga memperoleh julukan Jarullah (Tetangga Allah). Dan selama tinggan di kota Mekkah itulah dia menulis Al-Kasysyaf ‘An Haqa’iqit Tanzil Wa ‘Unuyil Aqawil Fi Wujuhit Ta’wil. Dia wafat pada 538 H, di Jurjaniah khawarizem setelah kembali dari makkah. Beliau termasuk tokoh aliran Muktazilah yang membela mati-matian madzhabnya. Ia memperkuatnya dengan kekuatan hujjah yang dimilikinya. Dalam hal ini, imam adz-Dzahabi di dalam kitabnya “al-Miizaan” (IV:78) berkata, “Ia seorang yang layak (diambil) haditsnya, tetapi ia seorang penyeru kepada aliran muktazilah, semoga Allah melindungi kita. Karena itu, berhati-hatilah terhadap kitab Kasysyaaf karyanya.”[7]
8.      as-Sakaky
Abu Ya’qub Yusuf bin Muhammad bin Ali as-Sakaky atau dikenal dengan nama as-Sakaky dilahirkan di khawarizm pada tahun 555 H dan wafat pada tahun 626 H. beliau menyusun sebuah karya besar yang menguraikan ilmu balaghah disamping ilmu-ilmu pengetahuan bahasa arab lainnya. Kitab tersebut dikenal dengan nama Miftahul Ulum.
Selain tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, masih banyak lagi tokoh yang mempunyai andil dalam pengembangan ilmu balâghah, yaitu:
1.      Hasan bin Tsabit, beliau seorang penyair Rasullullah saw. Orang Arab sepakat bahwa ia adalah seorang tokoh penyair dari kampung. Suatu pendapat menyatakan bahwa ia hidup selama 120 tahun; 60 tahun dalam masa Jahiliyah dan 60 tahun dalam masa keislaman. Ia meninggal pada tahun 54 H.
2.      Abu-Thayyib, beliau adalah Muhammad bin al-Husain seorang penyair kondang. Ia mendalami kata-kata bahasa Arab yang aneh. Syi’irnya sangat indah dan memiliki keistimewaan, bercorak filosofis, banyak kata-kata kiasannya dan beliau mampu menguraikan rahasia jiwa. Ia dilahirkan di Kufah, tepatnya di sebuah tempat bernama Kindah pada tahun 303 H, dan wafat tahun 354 H.
3.      Umru’ al-Qais, ia tokoh penyair Jahiliyah yang merintis pembagian bab-bab dan macam-macam syi’ir. Ia dilahirkan pada tahun 130 sebelum Hijriyah. Nenek moyangnya adalah para raja dan bangsawan Kindah. Ia wafat pada tahun 80 sebelum Hijriyah. Syi’ir-syi’irnya yang pernah tergantung di Ka’bah sangat masyhur.
4.      Abu Tammam (Habib bin Aus Ath-Tha’i), ia seorang penyair yang masyhur, satu-satunya orang yang mendalam pengetahuannya tentang maâni, fashahah al-syâir, dan banyak hafalannya. Ia wafat di Mosul pada tahun 231 Hijriyah.
5.      Jarir bin Athiyah al-Tamimi, ia seorang di antara tiga penyair terkemuka pada masa pemerintahan Bani Umayah. Mereka adalah al-Akhthal, Jarir, dan al- Farazdaq. Dalam beberapa segi ia melebihi kedua rekannya. Dia wafat pada tahun 110 H.
6.      Al-Buhturi, ia seorang penyair Bani Abasiyah yang profesional. Ketika Abu al- ‘A’la al-Ma’arri ditanya tentang al-Buhtury dia berkata, “Siapakah yang ahli syi’ir di antara tiga orang ini, Abu Tammam, al-Buhturi, ataukah al- Mutanabbi?” Ia menjawab, “Abu Tamam dan al-Mutanabbi keduanya adalah para pilosof; sedangkan yang penyair adalah al-Buhturi”. Dia lahir di Manbaj dan wafat di sana pada tahun 284 H.”
7.      Saif al-Daulah, ia adalah Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Hamdan, raja Halab yang sangat cinta syi’ir. Lahir tahun 303, wafat tahun 356.
8.      Ibnu Waki’, ia seorang penyair ulung dari Baghdad. Lahir di Mesir dan wafat di sana pada tahun 393 H.
9.      Ibn Khayyath, ia seorang penyair dari Damaskus. Ia telah menjelajahi beberapa negara dan banyak mendapatkan pujian dari masyarakat yang mengenalnya. Ia sangat masyhur, karena karya-karyanya khususnya pada buku-buku syi’ir yang sangat populer. Ia wafat pada tahun 517 H.
10.  Al-Ma’arri, ia adalah Abu al-‘Ala’ al-Ma’arri. Dia seorang sastrawan, pilosof dan penyair masyhur, lahir di Ma’arrah (kota kecil di Syam). Matanya buta karena sakit cacar ketika berusia empat tahun. Dia meninggal di Ma’arrah pada tahun 449 H.
11.  Ibn Ta’awidzi, ia adalah penyair dan sastrawan Sibth bin at-Ta’awidzi. Wafat di Baghdad pada tahun 584 H, dan sebelumnya buta selama lima tahun.
12.  Abu Fath Kusyajin, ia seorang penyair profesional dan terbilang sebagai pakar sastra. Ia cukup lama menetap di Mesir dan berhasil mengharumkan negeri itu. Dia wafat pada tahun 330 H.
13.  Ibn Khafajah, ia seorang penyair dari Andalus. Ia tidak mengharapkan kemurahan para raja sekalipun mereka menyukai sastra dan para sastrawan. Ia wafat pada tahun 533 H.
14.  Muslim bin al-Walid, ia dijuluki dengan Shari’ al-Ghawani. Ia seorang penyair profesional dari dinasti Abbasiyah. Ia adalah orang yang pertama kali menggantungkan syi’irnya kepada Badî’. Dia wafat pada tahun 208 H.
15.  Abu al-‘Atahiyah, ia adalah Ishaq bin Ismail bin al-Qasim, lahir di Kufah pada tahun 130 H. Syi’irnya mudah di pahami, padat dan tidak banyak mengada-ada. Kebanyakan syi’irnya tentang zuhud dan peribahasa. Dia wafat pada tahun 211 H.
16.  Ibn Nabih, ia seorang penyair dan penulis dari Mesir. Ia memuji Ayyubiyyin dan menangani sebuah karya sastra berbentuk prosa buat Raja al-Asyraf Musa. Ia pindah ke Mishshibin dan wafat di sana pada tahun 619 H.
17.  Basysyar bin Burd, ia seorang penyair masyhur. Para periwayat menilainya sebagai seorang penyair yang modern lagi indah. Ia penyair dua zaman, Bani Umayah dan Bani Abasiyah. Dia wafat pada tahun 167 H.
18.  Al-Nabighah Al-Dzubyani, ia adalah seorang penyair Jahiliyah. Ia dinamai Nabighah karena kejeniusannya dalam bidang syi’ir. Ia dinilai oleh Abd al- Malik bin Marwan sebagai seorang Arab yang paling mahir bersyi’ir. Ia adalah penyair khusus Raja Nu’man Ibn al-Mundzir. Di zaman Jahiliyah, ia mempunyai kemah merah khusus untuknya di pasar tahunan Ukash. Para penyair lain berdatangan kepadanya, lalu mereka mendendangkan syi’irsyi’irnya untuk ia nilai. Ia wafat sebelum kerasulan Muhammad saw.
19.  Abu al-Hasan al-Anbari, ia seorang penyair kondang yang hidup di Baghdad. Ia wafat pada tahun 328 H. Ia terkenal dengan ratapannya kepada Abu Thahirbin Baqiyah, patih ‘Izz al-Daulah, ketika ia dihukum mati dan tubuhnyadisalib. Maratsi-nya (ratapannya) itu merupakan maratsi yang paling jarangmengenai orang yang mati disalib. Karena ketinggiannya, Izzud Daulahsendiri memerintahkan agar dia disalib. Dan seandainya ia sendiri yangdisalib, lalu dibuatkan maratsi tersebut untuknya.
20.  Syarif Ridha, ia adalah Abu al-Hasan Muhammad yang nasabnya sampaikepada Husain bin Ali as. Ia seorang yang berwibawa dan menjaga kesuciandirinya. Ia disebut sebagai tokoh syi’ir Quraisy karena orang yang pintar di antara mereka tidak banyak karyanya, dan orang yang banyak karyanya tidak pintar, sedangkan ia menguasai keduanya. Ia lahir di Baghdad dan wafat di sana pada tahun 406 H.
21.  Said bin Hasyim al-Khalidi, ia seorang penyair keturunan Abdul Qais. Kekuatan hafalannya sangat mengagumkan. Ia banyak menulis buku-buku sastra dan syi’ir. Ia wafat pada tahun 400 H.
22.  Antarah, ia adalah seorang penyair periode pertama. Ibunya berkebangsaan Ethiopia. Ia terkenal berani dan menonjol. Ia wafat tujuh tahun sebelum kerasulan Muhammad.
23.  Ibnu Sinan al-Kahfaji, ia adalah seorang penyair dan sastrawan yang berpendirian syi’ah. Ia diangkat menjadi wali pada salah satu benteng di Halab oleh Raja Mahmud bin Saleh, tetapi ia memberontak terhadap raja. Akhirnya ia mati diracun pada tahun 466 H.
24.  Ibnu Nubatah Al-Sa’di, ia adalah Abu Nashr Abd al-Aziz, seorang penyair ulung yang sangat lihai dalam merangkai dan memilih kata. Ia wafat pada tahun 405 H.[8]

IV.             PENUTUP
Kita tidak mampu mengenal tokoh-tokoh besar dalam bidang yang hidup berabad-abad sebelum kita kecuali hanya melalui karyanya. Hal serupa yang pemakalah rasakan dalam mempelajari perihal tokoh-tokoh balaghah ini, kalau bukan dari karya yang diwariskan oleh para pendahulu kita, maka kita tidak akan mengenalnya.
Demikian makalah yang Saya sampaikan. Dengan harapan semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak. Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diperlukan demi kemaslahatan kita semua. Dan semoga kita bisa mengambil hikmahnya.










DAFTAR PUSTAKA
Dief, Syauqi, al-Balaghah Tathawwur wa Tarikh, Kairo: Darul Ma’arif, Tth.
Zaenuddin, Mamat, Pengantar Ilmu Balaghah, Bandung: PT Refika Aditama, 2007.
http://finarga.blogspot.com/2010/08/nama-biografi-singkah-tokoh-islam.html
http://id.wikipedia.org/wiki/






[1]Mamat Zaenuddin, Pengantar Ilmu Balaghah, (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), hlm. 3.
[2]Mamat Zaenuddin, Pengantar Ilmu Balaghah, (Bandung: PT Refika Aditama, 2007), hlm. 3.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Al_Jahiz
[4] http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_al-Mu'tazz
[5] Syauqi Dief, al-Balaghah Tathawwur wa Tarikh, (Mesir: Darul Maarif, Tth),  hlm. 78.
[6] http://finarga.blogspot.com/2010/08/nama-biografi-singkah-tokoh-islam.html
[7] http://islami90.blogspot.com/2011/07/biografi-az-zamakhsyari-by.html
[8]Mamat Zaenuddin, Pengantar Ilmu Balaghah, hlm. 3-6.
التشبيه

MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Balaghah II
Dosen pengampu: Mahfudz Shiddiq Lc, MAg


Disusun Oleh:
Achmad Zuhri                       113211001
Anis Ulfatush shihhah          113211004

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014

I.            PENDAHULUAN
Balaghah merupakan ilmu yang mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi  kesan yang mendalam di dalam hati dan sesuai dengan situasi, kondisi dan terhadap orang – orang yang diajak bicara.
Menurut pembagiannya, balaghoh dibagi menjadi 3 : ilmu bayanilmu badi’ dan ilmu ma’any, Ilmu Bayan yaitu Ilmu yang membahas stalistika atau gaya bahasa Arab. Ilmu badi’ adalah ilmu yang mempelajar segi estetika sebuah kalimat baik yang terdapat dalam puisi maupun prosa sehingga akan diketahui nilai I’jaz atau keistimewaan didalamnya. Ilmu ma’any adalah ilmu yang membahas tentang lafadz-lafadz bahasa Arab sesuai dengan konteks situasinya.
Bagian dari ilmu balaghah ada ilmu yang disebut ilmu bayan, yang mana dengan ilmu ini maka jelaslah apa yang dimaksud dari pembicara, tasybih juga merupakan salah satu cabangan dari ilmu bayan ini. Ia didefinisikan sebagai penjelasan bahwa suatu hal atau beberapa hal memiliki kesamaan sifat dengan hal yang lain, penjelasan tersebut menggunakan huruf kaf yang artinya seperti atau sejenisnya, baik tersurat maupun tersirat.
Unsur tasybih ada empat, yaitu musyabbah (yang diserupakan), musyabbah bih (yang diserupai), adat tasybih (huruf atau kata yang menyatakan penyerupaan), dan wajah syabah ( sifat yang ada pada kedua belah pihak). Berikut ini kami ingin menjelaskan tentang macam-macam tasybih , sehingga kita memahami dengan detil bagian serta contoh-contoh tasybih tersebut.

II.         RUMUSAN MASALAH
A.    Apa saja pembagian Tasybih ?
B.     Seperti keindahan Tasybih ?
C.     Bagaimana jika Tasybih tidak sesuai dengan ketentuannya?

III.      PEMBAHASAN
A.    Pembagian Tasybih
1.      Pembagian Tasybih  dilihat dari keadaan ta’addudnya

وباعتبارعدد ملفوف أو # مفروق أو تسوية جمع رأوا
Tasybih dengan melihat berbilangannya musyabbah dan musyabbah bih itu di bagi empat, yaitu :  1. Tasybih malfuf, 2. Tasybih mafruq, 3. Tasybih taswiyah, 4. Tasybih jam’u[1].
a.   Tasybih malfuf
Yaitu mengumpulkan musyabbah dengan musyabbah dan musyabbah bih dengan munyabbah bih. Contoh :
كأن قلوب الطير رطبا و يابسا # لدى و كرها العناب والحشف البالي
Seakan-akan hati-hati burung, yang basah dan yang kering, yang ada disarangnya itu seperti anggur dan kurma busuk.

b.   Tasybih mafruq
Yaitu mengumpulkan musyabbah dan musyabbah bih lalu mendatangkan musyabbah  dan musyabbah bih yang lain.
النشر مسك والوجوه دنا # نير و أطراف الاكف عنم
Semerbak harum wanita itu laksana minyak kasturi, wajah-wajahnya itu laksana uang dinar dan jarinya yang lentik itu laksana dahan kayu merah yang halus.

c.    Tasybih taswiyah
Yaitu apabila musyabbahnya banyak sedangkan musyabbah bihnya hanya satu.
صدغ الحبيب و حالي # كلاهما كالليالي
Rambut kekasih yaang terurai jatuh ke pelipis dan keadaanku, keduanya laksana  malam.

d.   Tasybih jamak
Yaitu apabila musyabbah bihnya banyak, sedangkan musyabbahnya hanya satu.
كأنما يتبسم عن لؤلؤ # منضض او إقاح
Bila ia tersenyum, giginya yang tampak laksana mutiara yang terangkai atau laksana hujan es atau laksana tumbuhan iqoh.

2.      Pembagian tasybih dilihat dari  syabbahnya
ومنه باعتباره ايضا قريب # وهو جلي الوجه عكسه الغريب
لكثرة التفصيل أو لندرة     # في الذهن كالتركيب في كنهية
·      Dan sebagaian dari tasybih yang memandang syabbahnya dibagi dua, yaitu:  1. Tasybih Qorib, 2. Tasybih ghorib.
·      Ketidak jelasan wajah syabbah itu disebabkan banyaknya perincian atau karena langka wujudnya didalam hati.
a.      Tasybih Qorib
Yaitu tasybih  yang tidak membutuhkan angan-angan dan pikiran karena wajah syabbahnya sudah jelas sejak permulaan. Contoh :
خده  كالورد  : pipinya seperti bunga mawar
وجهه كالبدر  : wajahnya seperti bulan purnama

b.      Tasybih Ghorib
Yaitu tasybih  yang membutuhkan pemikiran dan angan-angan karena samarnya wajah syabah sejak permulaannya. Contoh ;
والشمس كالمرأة في الأشل
Matahari itu laksana cermin digenggaman orang jimpe

3.      Tasybih dilihat dari juznya (musyabbah dan musyabbah bih) dibagi 4, yaitu :
a.       Tasybih mufrod bi al mufrod, contoh:
 خدها كالورد[2]
وكقوله تعالى : هنّ لباس لكم وانتم لباس لهنّ (البقرة : ١٨٧)[3]
b.      Tasybih mufrod bi al murakkab (menyamakan sesuatu yang mufrod dengan sesuatu yang tersusun/terkumpul), contoh :
وجهها كالقمر في الليلة الخامسة عشرة
c.       Tasybih murakkab bi al murakkab, contoh :
كأنّ مثار النقع فوق رؤوسنا # وأسيافنا ليل تهاوى كواكبه[4]
Debu yang berterbangan dan pedang diatas kepala kita bagaikan malam yang berjatuhan bintangnya.
d.      Tasybih murakkab bi al mufrod, contoh : كأنّ وجه زيد حين يضحك بدر

B.     Mahasin Attasybih
Dalam membuat tasybih, musyabbah harus diserupakan dengan sesuatu yang lebih unggul darinya. Maka dalam membuat tasybih harus mentaqdirkan lafadz افعل ,jika tidak maka tasybih tersebut tidak termasuk tasybih yang baligh, seperti kalimat  زيد اسد  (contoh tasybih yang tersimpan adat tasybinya), zaid diserupakan seperti harimau yang pada hakikatnya harimau lebih berani (اشجع) daripada zaid.[5]
Termasuk pesona tasybih, sabda Allah dalam al qur’an “وجعلنا الليل لباسا” malam diserupakan seperti pakaian karena sifat malam dapat menutupi seseorang yang ingin melarikan diri dari penglihatan musuh.[6]
Termasuk pesona tasybih dengan menyertakan adat tasybih, sabda nabi Muhammad saw. :
مثل المؤمن الذي يقرأ القران كمثل الأترجة طعمها طيب وريحها طيب,
 ومثل المؤمن الذي لا يقرأ القران كمثل التمرة طعمها طيب ولا ريح لها,
ومثل المنافق الذي يقرأ القران كمثل الريحانة ريحها طيب ولا طعم لها,
ومثل المنافق الذي لا يقرأ القران كمثل الحنظلة لا ريح لها وطعمها مرّ" (تشبيه المركب بالمركب)
Rasulullah menyerupakan :
1.      orang mukmin yang membaca al quran dengan buah utrujah yang juga mempunyai dua sifat yaitu rasanya enak dan baunya harum.
2.      Orang mukmin yang tidak membaca al quran diserupakan dengan buah kurma, rasanya enak namun tidak memiliki bau yang harum
3.      Orang munafiq yang membaca al quran diumpamakan seperti bunga telasih, baunya harum namun tak memiliki rasa
4.      Orang munafiq yang tidak membaca al quran diumpamakan seperti handholah (sejenis labu-labuan), tidak berbau harum dan rasanya pahit.[7]

C.    ‘Uyub Attasybih
Telah dijelaskan di atas bahwa dalam membuat tasybih, hendaknya mentasybihkan sesuatu dengan sesuatu yang lebih unggul, seperti menyerupakan yang bagus dengan yang lebih bagus, yang buruk dengan yang lebih buruk,dan yang jelas dengan yang lebih jelas, jika tidak demikian maka tasybih tersebut adalah tasybih naqis, seperti kalimat محمد مصباح , seharunya lafad yang digunakan bukan misbah, melainkan harus menggunakan lafad شمس atau بدر
Dalam membuat tasybih seharusnya menetapkan hukum atau sifat yang terdapat pada musyabbah bih, jika tidak demikian maka akan membuat tasybih cacat dan mengurangi nilai kebalaghohannya.
Contoh :
وخالٍ على خديك يبدو كأنه # سنا البدر في دعجاء باد دجونها
“Tahi lalat di pipimu bagaikan pancaran rembulan di malam yang gelap, Nampak hitamnya”
Sudah barang tentu  warna pipi pada umumnya adalah putih, sedangkan warna tahi lalat adalah hitam,namun sang penyair menyerupakan tahi lalat seperti pancaran bulan purnama, sedangkan pipi yang biasanya putih diumpamakan seperti malam yang gelap, hal ini berbalik dari kenyataan.
Sama halnya jika membuat tasbih dengan sifat yang jauh atau bahkan bertolak belakang, maka juga akan mengurangi nilai kebalaghohannya.
Contoh :
لاتسقيني ماء الملام فانني # صبّ قد استعذبت ماء بكائي
“ jangan kau siram diriku dengan air celaan, sungguh kucuran air mataku telah membuatku tersiksa”
Penyair mengumpamakan celaan seperti air, hal ini bertolak belakang, karena air adalah sesuatu yang disukai, sedangkan celaan adalah sesuatu yang dibenci.[8]

IV.      KESIMPULAN
A.    Pembagian Tasybih  dilihat dari keadaan ta’addudnya
1.      Tasybih malfuf
2.      Tasybih mafruq
3.      Tasybih taswiyah
4.      Tasybih jamak

B.      Pembagian tasybih dilihat dari  syabbahnya
1.      Tasybih Qorib
2.      Tasybih Ghorib


C.       Tasybih dilihat dari juznya (musyabbah dan musyabbah bih)
1.      Tasybih mufrod bi al mufrod
2.      Tasybih mufrod bi al murakkab
3.      Tasybih murakkab bi al murakkab
4.      Tasybih murakkab bi al mufrod,

D.      Mahasin Attasybih
            Dalam membuat tasybih, musyabbah harus diserupakan dengan sesuatu yang lebih unggul darinya. Maka dalam membuat tasybih harus mentaqdirkan lafadz افعل ,jika tidak maka tasybih tersebut tidak termasuk tasybih yang baligh

E.       Uyub Attasybih
Dalam membuat tasybih seharusnya menetapkan hukum atau sifat yang terdapat pada musyabbah bih, jika tidak demikian maka akan membuat tasybih cacat dan mengurangi nilai kebalaghohannya.

1.           PENUTUP
Alhamdulillah kami panjatkan puji syukur kehaditrat Allah SWT. Yang telah mencurahkan rahmatNYA sehingga makalah ini dapat terselesaikan, dengan kerendahan hati, pemakalah akui makalah ini jauh dari sempurna, banyak kekurangan di dalamnya. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kebaikan makalah selanjutnya, semoga makalah ini bermanfa’at bagi kita semua amin.













DAFTAR PUSTAKA
Shoyan, M. Sholihuddin, Mabadiul Balaghoh Juz Tsani, Jombang: Darul Hikmah, 2002.
Al Qazwini, Hatib, Al Idloh fi ulum al balaghoh, Beirut: Dar Al Ulum Al Ilmiyah,2010.
As Sayuthi, Jalaluddin Abdurrahman, Syarhu ‘Uqud al juman , Semarang: karya toha putra,tth.
Atiq, Abdul Aziz, ‘Ilmu al Bayan, Beirut : Dar an Nahdloh al Arabiyah,1985.




                [1] M. Sholihuddin Shoyan, Mabadiul Balaghoh Juz Tsani, ( Jombang: Darul Hikmah, 2002), hlm. 128-129
[2]Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi, Syarhu ‘Uqud al juman , (Semarang: karya toha putra,tth), hlm.86
[3] Hatib al Qazwini, Al Idloh fi ulum al balaghoh, (Beirut: Dar Al Ulum Al Ilmiyah,2010), hlm.186
[4] Jalaluddin Abdurrahman As Suyuthi, Syarhu ‘Uqud al juman ,hlm.82
[5] Abdul Aziz Atiq, ‘Ilmu al Bayan,(Beirut : Dar an Nahdloh al Arabiyah,1985), hlm.119
[6] Abdul Aziz Atiq, ‘Ilmu al Bayan,hlm.120
[7] Abdul Aziz Atiq, ‘Ilmu al Bayan,hlm.129
[8] Abdul Aziz Atiq, ‘Ilmu al Bayan,hlm.130